Translate

Senin, 15 April 2013


Sepercik Cahaya Keindahan Islam 
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri


1. Akidah (Keyakinan)

Bagian ini adalah bagian yang paling banyak diperhatikan dan ditekankan dalam syari’at Al Qur’an. Bahkan permasalahan ini telah disatukan dengan segala urusan setiap muslim dan dijadikan sebagai tujuan dari segala gerak dan langkah kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az Dzariyat: 56)

Dan pada ayat lain Allah berfirman,
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal/kematian).” (QS. Al Hijr: 99)

Inilah akidah Al Qur’an, yaitu beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala macam bentuk peribadatan kepada selain-Nya, baik peribadatan dengan pengagungan, kecintaan, rasa takut, harapan, ketaatan, pengorbanan, atau lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’: 36)

Akidah Al Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam menjadi kuat dan perkasa bak gunung yang menjulang tinggi ke langit, tak bergeming karena terpaan angin atau badai. Akidah Al Qur’an mengajarkan mereka untuk senantiasa yakin dan beriman bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah, tiada yang dapat menghalang-halangi rezeki yang telah Allah tentukan untuk hamba-Nya dan tiada yang dapat memberi rezeki kepada orang yang tidak Allah Ta’ala beri.
“Apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 116)

Dan pada ayat lain Allah berfirman,
“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS. Thoha: 6)

Dengan keyakinan dan iman semacam ini, setiap muslim tidak akan pernah menggantungkan kebutuhan atau harapannya kepada selain Allah, baik itu kepada malaikat, atau nabi atau wali atau dukun atau ajimat. Tiada yang mampu memberi atau mencegah rezeki, keuntungan, pertolongan atau lainnya selain Allah Ta’ala:
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2)

Pada ayat lain Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (kehendak) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu.’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al Ahzab: 17)

Dan bukan hanya menanamkan keimanan dan tawakal yang kokoh kepada Allah semata, akan tetapi akidah Al Qur’an juga benar-benar telah meruntuhlantahkan segala keterkaitan, ketergantungan, mistik, takhayul dan segala bentuk kepercayaan kaum musyrikin kepada sesembahan selain Allah, sampai-sampai digambarkan bahwa sesembahan -atau apapun namanya- selain Allah tidak berdaya apapun bila ada seekor lalat yang merampas makanan mereka. Mereka tidak akan pernah mampu menyelamatkan makanan yang telah terlanjur dirampas oleh lalat, seekor mahluk lemah dan hina.
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 73-74)

Akidah Al Qur’an juga mengajarkan bahwa sumber kelemahan dan kegagalan umat manusia ialah karena mereka jauh dari pertolongan dan bimbingan Allah, semakin mereka menjauhkan diri dari Allah dan semakin menggantungkan harapannya kepada selain-Nya maka semakin rusak dan hancurlah harapan dan kepentingannya,
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)

Akidah Al Qur’an juga mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memiliki keyakinan yang kokoh bahwa tidaklah ada di dunia ini yang mampu mengetahui hal yang gaib selain Allah. Sehingga dengan keimanan semacam ini umat islam terlindungi dari kejahatan para dukun, tukang ramal dan yang serupa.
“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui kapankah mereka akan dibangkitkan.” (QS. Fathir: 65)

Dengan akidah Al Qur’an ini, seseorang akan memiliki kejiwaan yang tangguh, pemberani dan bersemangat tinggi, pantang mundur dan tak kenal putus asa dalam menjalankan roda-roda kehidupan dan mengarungi samudra kenyataan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan kepada saudara sepupunya akidah Al Qur’an di atas dengan sabdanya,

“Jagalah (syari’at) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syari’at) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa dihadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat taqdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, dan At Tirmizi)

Minggu, 14 April 2013


Tips Tidur Sehat dan Islami

Tidur merupakan tabi’at sekaligus kebutuhan manusia,tidur yang cukup merupakan tanda sehatnya badan manusia,nah bagaimana tips tidur yang sehat,islami dan selamat dari gangguan syaithan,berikut ini ulasan tentang tidur islami,selamat dan sehat:
·          Sebelum tidur hendaknya anda menutup pintu,memadamkan api (jika lampunya dari api seperti zaman dulu sebelum ada listrik) karena Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:
أَطْفِئُوْا الْمَصَابِيْحَ بِالًليْلِ إِذَا رَقَدْتُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ...
“Padamkanlah lampu kalian serta tutuplah pintu-pintu kalian pada malam hari jika kalian hendak tidur”(HR.Bukhari. 6296,Muslim.2012).
Beliau juga bersabda:
إِنَّ هَذِهِ النَّارَ عَدُوٌّ لَكُمْ,فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوْهَا عَنْكُمْ
“Sesungguhnya api ini adalah musuh kalian,maka apabila kalian tidur padamkanlah ia” (HR.Bukhari dan Muslim).
·         Sebelum anda tidur hendaknya anda menutup bejana yang terbuka,Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

غَطُّواالْإنَاءَ وَأَوْكُواالسِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةٌ يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوِسِقَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ
“Tutuplah bejana kalian dan tutuplah bejana tempat minum kalian,karena pada setiap tahun ada malam di mana ada sebuah penyakit yang turun,dan tidaklah penyakit itu lewat di atas sebuah bejana yang tidak mempunyai tutup melainkan penyakit itu akan turun di sana” (HR.Muslim.5223).
Ibnu Muflih mengatakan:baik dia menutup bejana itu dengan tutupnya ataupun dengan menaruh sepotong kayu di atasnya(al-Adaab asy-Syar’iyyah III/238).P
Dianjurkan berwudhu’ sebelum tidur,berdasarkan sabda Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ
“Apabila engkau hendak tidur maka berwudhu’lah terlebih dahulu sebagaimana engkau berwudhu’ untuk shalat”(HR.Bukhari no.247,Muslim no.2710).
Diantara adab tidur adalah mengibaskan tempat tidur dengan kain atau sejenisnya sebelum tidur di atasnya,berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:
إَذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلىَ فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ لِأَنَّهُ لَا يَدْرِيْ مَا خَلَّفَهُ عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian hendak berbaring di ranjangnya maka hendaknya dia mengibas-ngibasnya terlebih dahulu,karena dia tidak tahu apa yang berada dan tertinggal di sana” dalam riwayat Muslim beliau bersabda:
فَلْيَأْخُذْ إِزَارَهُ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَّفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ
·         “Hendaknya dia memegang sarugnya lalu mengibaskannya di atas kasurnya seraya membaca:bismillah,karena dia tidak tahu apa yang menggantikannya tidur di atas kasurnya seteleah dia tinggalkan”.
Tidur dengan bertumpu pada lambung sebelah kanan serta meletakkan pipi kanan di atas tangan yang sebelah kanan,para ulama mengatakan bahwa posisi tudur seperti ini di antara fa’idahnya adalah menjadikan seseorang cepat bangun dan jaga dikarenakan jantung ke arah kanan maka ia tidak akan menjadi berat disebabkan tidur itu,anjuran tidur kea rah kanan ini berdasarkan sebuah hadits,Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:
.........ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلىَ شِقِّكَ الْأَيْمَنِ..
“…Kemudian berbaringlah dengan bersandar pada bagian tubuh sebelah kanan…” (HR.Bukhari no.6320 Muslim no.2714).
Sebelum tidur hendaknya membaca do’a tidur:
Membaca surat al-Ikhlash,surat al-Falaq,surat an-Nas lalu meniupkannya dengan ringan di atas kedua telapak tangan kemudian mengusapnya ke seluruh tubuh yang dapat dijangkau,hal ini dilakukan sebanyak tiga kali (HR.Bukhari dengan Fathul Baari IX/62,Muslim IV/1723).
Membaca ayat al-Kursi sebanyak sekali,dan barangsiapa yang membaca ayat kursi ini sebelum tidur,maka dia akan selalu dilindungi oleh penjaga yang dikirik oleh Allah sampai dia bangun pagi(HR.Bukhari dengan Fathul Baari IV/487).
Membaca ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah yaitu ayat ke-285 sampai 286,dan sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari(IX/94 dengan Fathul Baari) juga Muslim (I/554) “Barangsiapa yang membaca dua ayat surat al-Baqarah ini maka dia akan dicukupkan” dari gangguan syaitahan yang jahat.
Hindari tidur sendirian
Berdzikir dengan dzikir yang diajarkan oleh Nabi-shallallahu alaihi wasallam-ketika seseorang tiba-tiba terbangun atau tidak bisa tidur(insomnia),di antaranya dengan mengucap:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنَ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan dansiksa-Nya serta kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari godaan syaithan(bisikannya) serta jangan sampai mereka hadir(kepadaku)”(HR.Abu Dawud no.3893 dan dihasankan oleh al-Albani).

Jumat, 28 Desember 2012


Tanyakan Pada Dirimu

Tahukah kamu?
Siapa dirimu?
Siapa yang menciptakanmu?

Tahukah kamu tujuan engkau diciptakan?
Untuk apa hidupmu kan berjalan?
Apakah seperti kaki tak bertuan?
Atau melangkah berpegang tali aturan?
Atau layang – layang terlepas dari pegangan?

Lalu,
Mengapa engkau mengikuti simpangan?
Jalan mulus tanpa penerangan
Kemanakah tali pedomanmu?
Apa kau buang bak barang rongsokan?
Atau kau simpan tanpa sentuhan tangan?

Menurutmu itu bahagia?
Atau anggapan beginilah seharusnya hidup?
Hidup yang jauh tak berpedoman
Yang ada hanya angan, angan, dan angan

Duniamu adalah segalanya bagimu?
Bahkan melebihi harga dirimu?
Kau gadaikan harga dirimu demi hawa nafsumu?
Dan akhirnya kamu menyangka
Ya, aku adalah orang yang terbahagia

Apa kau tahu?
Babak hidupmu tak berhenti setelah mati?
Dan lebih berarti dari keadaanmu sekarang ini?
Babak hidup yang lebih hakiki

Sungguh ironis
Kini malumu telah luntur
Apa akhirnya kau akan memebuat negeri kita ini hancur?

Ingatlah
Tuhan ada di sana
Menantimu kembali
Dengan wajah bercahaya
Atau
Meragkak dengan hina 


Sabtu, 17 November 2012


Makhluk - Makhluk Kecil
Chan adalah seekor anak semut yang belum lama dilahirkan. Namun dia harus berjuang karena terlahir ditempat yang dilanda kekeringan tanpa ada bahan makanan. Banyak diantara penduduk yang akhirnya mati karena bencana ini.
Suatu saat salah seorang dari pasukan raja yang memimpin mereka memberikan berita bahwa di sebuah tempat yang berada di beberapa mil sebelah timur dari tempat ini terdapat sumber madu yang sangat melimpah. Hingga akhirnya sang raja memerintahkan rakyatnya untuk bersama – sama berkelana mencari tempat itu.
Chan bimbang apakah harus mengikuti teman – temannya ataukah tetap bertahan disini bersama ibunya yag sedang sakit. Apabila ia ikut pergi bersama teman – temannya ia takut terjadi sesuatu pada ibunya. Namun bila ia ikut pergi bersama mereka ia harus rela meninggalkan ibunya di sisni untuk beberapa waktu. Akhirnya ia putuskan untuk ikut pergi bersama teman – temannya
Setelah beberapa waktu lamanya mereka berjalan melewati bukit terjal dan tanah tandus yang sangat panas dan kering, sampailah mereka di tempat yang dituju. Ternyata madu itu berada di tebing yang sangat tinggi di seberang tempat mereka berdiri sekarang. Dibawanya terdapat laut yang dalam.
Chan memberikan ide pada sang raja untuk memberi jembatan antara kedua tebing itu. Mereka pun bergotong royong membuat jembatan dari batang kayu. Setelah selesai membuat jembatan , satu persatu dari merea melewati jembatan tersebut dengan saling berpegangan. Namun ternyata jembatan itu tidak kuat menahan beban mereka yang banyak. Jembatan itupun jatuh ke lautan. Mereka terlempar saling berpegangan. Beruntungnya, Chan yang pertamakali sampai di tebing seberang langsung meraih tangan temannya yang ada dibelakangnya. Pelan-pelan mereka ditarik keatas. Akhirnya mereka berhasil selamat dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari madu yang mereka cari.  
Ternyata halangan yang harus mereka lalui belum berhenti. Terjadi hujan yang beracun. Mereka menduga bahwa ini adalah ulah dari makhluk – makhluk yang lebih besar itu. Mereka menganggap makhluk – makhluk seperti Chan adalah musuh mereka. Diantara mereka banyak yang mati karena hujan badai itu. Hanya tersisa Chan dan beberapa orang temannya. Mereka terus berjuang dan akhirnya mereka menemukan sumber madu itu. Mereka mengambilnya dan tidak lupa memberi persediaan bagi teman – temannya dan Ibunya yang sedang sakit. Akhirnya mereka dapat kembali dengan selamat danIbunya Chan dapat sehat kembali.

Senin, 24 September 2012




kuncup di pojok taman
ia terdiam
sendiri

sejauh mata memandang,
pancaran cantiknya selalu menerpa 
lalu, apakah ada yang memandangnya kini?

kini kuncup itu tertusuk duri
menancap dalam seberapa sakitnya
satu persatu duri menerpa
sekuat tenaga ia melepasnya
namun, entah mengapa
semakin banyak duri dan semakin tajam menerpanya
betapa sakitnya hatimu, kuncupku. ..

ia menangis,
lukamu begitu dalam
sungguh betapa sesaknya hatimu saat ini?
tiadakah yang menghapuskannya?
dimana pengobat lukamu?
senandainya ada yang tau betapa luka hatimu...

ada yang memandangmu kuncupku
namun, ia tak tahu jika kau terluka
sama saja
hanya pemandang sekejap
kau hanya kuncup
didepanmu ia memandang yang lain
sama saja
jika layaknya juga duri

namun, ingatlah kuncupku. . .
kau cantik hatimu
kau hebat dengan kekuatanmu menahan lukamu
kau tangguh karena dapat menjaga hatimu

dan...
ingatlah kuncupku.
penciptamu tak akan rela 
melihatmu menangis karena luka.

Kamis, 20 September 2012

Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah

Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah
Kisah Wanita Shalihah | admin kisah islam | February 3, 2012 20:13

Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.

Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:

Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: “Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: “Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”

Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.

Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”

Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab: “Tidak.”

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.

Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna.” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati.”

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu` dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.

Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya Allah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”

Akupun bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut.” Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasannya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.” Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah.”

Maka dia berkata: “Asyhadu alla ilaaha illallah.”

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan keluarlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. (AR)*

[Sumber: www.qiblati.com, dinukil dari Majalah Qiblati edisi 4 Tahun 3]